Langsung ke konten utama

Postingan

Kita pulang Nak, ayah mau cerita...

Kutunjukkan padamu Nak, sebuah desa tempat awal segala asa. Di sini Nak, tak perlu kau nyalakan alarm, sudah ada kokok ayam. Dulu ayah bahkan disiram bila tak bangkit saat muazzin membangunkan alam. Kuperlihatkan padamu Nak, tentang pematang panjang membentang, di mewah kami punya sawah. Di sana dulu ayah dan pamanmu bermain tanpa jemu, berlepas baju tak peduli lumpur dan panu. Di sana dulu ayah dan pamanmu diberi ilmu, bercocok tanam dan meramu, membedakan rumput, gulma hingga tanaman jamu. Kutunjukkan padamu Nak, otot kendur kakekmu yang dulu bekerja bak baja, tak pernah didiamkan hanya agar ayah dan pamanmu cukup makan. Kutunjukkan padamu Nak, nenekmu yang kini berkerut luka berdaki, membenamkan kecantikannya pada tanah sedalam kaki hanya agar ayah dan pamanmu bisa tetap bersuka hati sepanjang hari. Kuceritakan padamu Nak, tentang kakek yg bertempur dgn lumpur, tentang nenek yg tetap bersyukur bahkan saat tersungkur, tentang mereka berdua yang berdarah parah tapi tak...

Untuk Sahabat, kisah sekelebat jabat

Yos gundah. Dia sudah coba segala posisi, dari berdiri tegak, nungging bahkan rebah, tetap resah. Mungkin ini bukan masalah posisi tapi masalah tempat, pikirnya pasrah. Baiklah, Yos pindah. Melamun di pohon bahkan samping bak sampah, perasaannya tak berubah, tetap serba salah. Apa yang jadi masalah? Well, ini adalah soal jiwa. Perasaan anak muda dimabuk asmara. Ini adalah permasalahan tanpa hitung logika, permasalahan yang sanggup membuat Nero membakar Roma, permasalahan yang sanggup membuat KD meninggalkan Anangnya. Ya, Yos sedang jatuh cinta. Kok sampe segitunya? Maaf, ini masalah Cinta Bro,, dan untuk  Yos, cinta itu spektakuler, bukan sekedar program ekstra kurikuler. Biasa aj kaleeee, tiap orang pernah kok jatuh cinta!!! Sekali lagi maaf Bro, untuk Yos masalah cinta bukan masalah biasa. Gini aja deh biar gampang mahaminnya, kita kenali Yos lebih tajam, aktual dan terpercaya. Secara fisik, Yos tu ga bisa dibandingin ma lukisan Monalisa, jauh banget! Warna ga meriah, ...

benar - salah

jadi begini ceritanya... Pada suatu Jumat yg panas, saya berangkat ke Mesjid. Apa yg saya lakukan disana, tak eloklah kalau dibagi dsini. Tp konon kabarnya, ada yg kehilangan sandal juga di Mesjid itu. Baiklah, kita teruskan. Selesai Jumatan, saya menuju parkiran. Tp pemandangan yg saya lihat sangat tidak mengenakkan hati ampela, apa pasal? Motor saya tak lg berdiri sempurna, sudutnya tak lg simetris seperti semula. Ada yg salah, jgn2 ada yg berulah? Ternyata tidak, setelah ditelaah masalahnya adalah ban saya gembos, bocor tertusuk paku. Tidak tanggung2, TIGA langsung!!!! Ostopilulooh... Saya langsung merenung, memikir bak Gibran kena tenung. Solusi pertama adalah berteriak histeris, berharap jemaah lain bersimpatis dan memberi sumbangan karna menganggap saya kumat Autis. Tapi itu terlalu memalukan. Solusi kedua, pejamkan mata anda, pada hitungan ketiga masuki alam tidur anda dan bayangkan motor saya berubah jd Honda Jazz. Baiklah, itu juga berlebihan. Opsi terakhir, yg paling mas...

aku dan kamu, malam itu...

23.48 wita Katara Sophie Ameera Yahya yg masih bingung akan dipanggil apa nantinya, tersedak. Atau bersendawa? Entahlah.. Yg pasti dia bersuara tiba2 dan itu sudah cukup tuk menyalakan alarm alamiah sang ayah yg baru saja lelap dlm rebah. 23.50 wita Aku , tanpa otak kiri, beraksi. Hasilnya, satu dot susu teramu sempurna, dan satu dapur terhambur disapu bencana. Tak apalah, selalu ada yg menjadi tumbal dalam sebuah revolusi. Ini susu buatmu Nak, racikan bartender otodidak, kau takkan bilang tidak, rasanya enak.. 23.53 wita Katara Sophie Ameera Yahya yg ntah kenapa dipanggil Ebi oleh ayahnya yg bingung , menguap.. Dia harus beradaptasi dgn tangan kasar ayah sok seksi yg dengan kikuk beraksi mengganti popok yg dia pipisi, rasssssakan kauw!!! Bangun tengah malam tuk bikin anak itu beda rasanya dengan bangun tengah malam tuk jaga anak, itu pedih jendral!!! 23.53 wita Aku , dengan otak kanan, memulai kegiatan. Tenang boi, ini urusan kecil, angkat badan Ebi, lepas popoknya, pasang...

..............................................................

Padi - Terbakar Cemburu Aku terbakar cemburu. Cemburu Buta. Tak bisa kupadamkan amarah dihatiku Sakit ...Menahan sakit hati  menyimpan perih. Tak bisa kuterima apa yang ku alami Ibaratnya jantung hati  tersayat pedang tajam ,  betapa sakitnya kurasakan itu. Reff. Dan kini aku tau kusangat,,, begitu dalamnya aku sungguh mencintaimu.  Mungkin selama ini ku salah... tak pernah pedulikanmu setulusnya hatiku Betapa bodohnya diriku.  Tak bisa mencintai dan menjaga hatimu dengan sepenuh jiwa. Bahwasanya... Selama ini aku tak menyadari... Dirimu adalah adalah milik teristimewaku.. Ibaratnya jantung hati  tersayat pedang tajam.  Betapa sakitnya....Kurasakan itu Reff. Dan kini aku tahu kusangat... Begitu dalamnya aku sungguh mencintaimu.  Mungkin selama ini ku salah.  Tak pernah pedulikanmu setulusnya hatiku. Kuakui ternyata sakit yang membakar hati.  Sudah membuatmu pergi... Kini hanya tinggalkan luka...aha aha ...

warning: curcol edisi rumah tangga

Ini cuma daftar beberapa orang yang membuat saya terperangah selama di Jogja. Kagum, nganga, takjub dan heran. Merupakan ringkasan dari kumpulan beberapa catatan saya. Catatan tentang pertemuan, obrolan dan pertemanan. Bertemu orang-orang baru kadang bisa saja menguak cerita lama, yang sebagian terkubur, sebagian kabur, sebagian lagi bak bubur -hangat dan asik disantap kala lapar menyergap-. Catatan aslinya, sengaja tidak dipublish, semua tersimpan dalam polder pribadi dan akan tetap disana sampai nanti saya punya rasa malu yang cukup untuk menjadikannya konsumsi khalayak. Egois dan utopis sepertinya, dan memang demikian. Saya masih menganggap bahwa publikasi tulisan selalu mengundang respon, bisa pujian yang menyenangkan atau kritikan yang menyebalkan. Keduanya masih belum bisa saya tanggapi dengan sehat. Kadang masih terbuai dengan puji yang sampai, kadang masih emosi dengan kritik yang mencaci. Pada titik tertentu, kritikan bahkan bisa saya anggap celaan saking sombong...

gerhana

seperti gerhana kini, berjelaga di sini purnama sepotong, penuh dengan kosong tahukah kamu, di sini angin dingin kejam diburunya lilin tengah malam, dikunyahnya hingga padam ditinggalnya dengan gigil cekam disisakannyai api, tapi tanpa sekam dan apa yang bisa kunyala selain gila? karna kau, jauh di sana... (Jogja 16 Juni saat gerhana di atap kos)